At the party – 3

Menjelang jam 3 pagi, terdengar pintu terbuka, Della bersama Vivi masuk dalam keadaan telanjang bulat. Della duduk di pinggiran ranjang membelakangiku dan Vivi di kursi sambil menyalakan sebatang rokok putih.

“Vi.. Lu mau ngisep lagi kan?” Della membuka front sambil tangannya merambat ke belakang meraba penisku. Aku membalas dengan meremas buah dada Della yang berada di depanku.

Lalu Della bangkit serta manarik tangan Vivi untuk mendatangiku. Della menciumku dengan ganas dan tangannya menarik tangan Vivi agar memegang penisku. Aku tak tinggal diam, aku berdiri sambil meraih pinggang Vivi, kutarik ke dalam pelukanku sambil kucium bibirnya, lidahku kumasukkan ke dalam mulutnya. Vivi tak kalah panas, lidahnya menyusuri seluruh permukaan bibirku lalu mendorong lidahnya ke dalam mulutku. Lidah kami bertautan. Vivi mulai menjilati leherku. Aku bisiki sesuatu pada Della, lalu dia tersenyum.

Jilatan Vivi mencapai seluruh permukaan leherku, lalu Vivi menarik kausku lewat kepala. Della memeluk Vivi dari belakang sambil meremas-remas buah dadanya. Vivi keenakan sambil memegang tangan Della untuk terus meremasnya. Tangan Vivi turun mengarah ke penisku dan meremasnya. Seketika penisku mengeras.

Sementara tangan Della sibuk meremas buah dada Vivi dari belakang, aku mengelus vaginanya dan mencari clitorisnya, kutekan sambil kuputar-putar jariku memberi rangsangan pada clitorisnya. Vivi semakin liar menciumi tubuhku. Della sudah berjongkok di bawah menarik penisku memasuki mulutnya. Penisku yang belum mengeluarkan sperma sama sekali langsung berdiri dan mengeras di dalam mulut Della, sementara jari tanganku sudah memasuki vagina Vivi, kukocok keluar masuk, kutambah dengan satu jari lagi hingga Vivi menggeliat keenakan.

Vivi mendorong aku duduk di sofa dan dia berjongkok meraih penisku dan mulai menjilati ujungnya sampai seluruh lingkaran kepala penisku. Della tak tinggal diam, dia naik ke sofa, duduk di perut membelakangi aku, sehingga aku melihat punggung dan vaginanya tepat di depan mulut Vivi yang sedang menghisap penisku. Vivi tidak bereaksi melihat vagina Della, lalu Della berbalik dan menyodorkan vaginanya ke mulutku, langsung kutangkap dengan bibir dan lidahku mengorek-ngorek vaginanya.

“Vir.. Enaakh vir.., lebih dalem lagi viir..” desah Della.

Sementara Vivi sudah memasukkan penisku ke dalam mulutnya, cuma masuk setengahnya dikarenakan posisi dudukku yang membuat ruang gerak Vivi menjadi terbatas. Aku berbaring di sofa, sekarang Vivi naik ke sofa, berlutut di antara kakiku dengan mulut yang masih penuh terisi penisku. Kepalanya mulai naik turun sehingga mulutnya mengocok penisku. Dalam posisi ini, pantat Vivi menungging ke atas, lalu Della berjongkok di wajahku dan menekankan vaginanya ke mulutku, aku bermain-main dengan vaginanya, kukorek vaginanya dengan lidahku, kuputar lidahku di dalam vaginanya hingga Della makin kencang menekan vaginanya di mulutku.

Tak lama, Vivi memutar tubuhnya sehingga kami berposisi 69, perputaran Vivi agak mendorong Della sehingga vagina Della yang sedang aku jilati digantikan oleh vagina Vivi. Aku dapat menjilati vaginanya dengan lapang dan Vivi dapat mengulum penisku dengan leluasa. Dalam posisi ini, Della berlutut di belakang kepalaku dan wajahnya diturunkan serta berusaha mencium bibirku.

“Vi.. Lebih dalam lagi..” aku mendesah.

Vivi berusaha untuk memasukkan penisku lebih dalam lagi, namun tetap tidak dapat masuk semua sampai kadang dia tersedak. Lidahku menggapai vagina Vivi, kujulurkan serta kujilat seluruh permukaan vaginanya. Vivi mengerang keenakan. Dalam kesulitan Della mencapai mulutku, akhirnya Della menemukan pantat Vivi di depan mukanya, Della menjilati permukaan pantat Vivi, merambat sampai permukaan lingkaran anusnya, dilingkarinya anus Vivi memakai ujung lidah Della yang tajam. Kedua lubang Vivi diserang oleh lidahku di vaginanya dan lidah Della di anusnya. Lalu Vivi menengadahkan kepalanya melepaskan penisku dari kulumannya.

“Aasschh.. Hhuuhh.. Oocchh.. Viirr.. Apa yang kau lakukan..?” teriak Vivi. Dia menolehkan kepalanya melihat apa yang terjadi.
“Dell.. Ngapain luu .., oocchh.. Enaakkhh..”. teriak Vivi sambil menggelengkan kepalanya.

Mendengar desahan itu, aku dan Della semakin bersemangat, kuputar lidahku di dalam vagina Vivi, Della pun mulai mendorong lidahnya memasuki anus Vivi sedalam-dalamnya dan memutar lidahnya.

“Acchh.. Guaa.. Bisa keluuaar niicchh..” jerit Vivi.

Aku dan Della makin bersemangat lagi, secara bersamaan, aku hisap vagina Vivi dan Della menyedot anus Vivi sekencang kencangnya. Vivi tidak dapat manahan orgasmenya lebih lama lagi hingga dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil sebelah tangannya meremas-remas buah dadanya.

“Huucchh.. Acchh.. Acchh.. Gua keelluuaarr”

Terasa vagina Vivi makin becek dan cairan vaginanya mengalir di mulutku. Vivi ambruk dengan kepala diselipkan di selangkanganku. Mulutku dan mulut Della yang lepas dari vagina dan anus Vivi bertemu dan aku berciuman dengan Della saling bertaut lidah dan merasakan cairan vagina Vivi.

“Kalian gila ya.., belum pernah gua ngerasa orgasme kaya tadi, sensasinya kaya di ujung langit” ujar Vivi.
“Itu pembukaan dari gua sama Virano, tuh kontolnya masih tegang, tugas lu sekarang” kata Della.

Lalu Vivi mengambil posisi berlutut di pahaku dan menundukkan kepalanya lagi, menjilati dari pangkal hingga ujung penisku, sementara Della menindih tubuhku dan menurunkan badannya sampai posisi vaginanya berada di perutku dan buah dadanya ada di wajahku. Sementara Vivi mengulum dan menjilati penisku, Della makin menurunkan badannya hingga vaginanya juga berada tepat di wajah Vivi. Dalam posisi seperti ini, Vivi tidak dapat menghindar lagi hingga akhirnya Vivi sesekali juga menjilat vagina Della. Kadang Della menekuk pantatnya hingga jilatan Vivi terkena anusnya. Dalam keadaan ini, konsentrasiku kacau sehingga tidak dapat merasakan nikmatnya dan jauh dari orgasme.

“Dell.. Kontol segede gini susah gua ngisepnya, gua mau liat isepan elo dulu dong” kata Vivi.

Della bangkit berbalik lalu menunjukkan cara dia menghisap. Della memulai dari ujung penisku, bibirnya dilingkarkan di permukaan kepala penisku, ujung lidahnya dipakai untuk membelah garis kecil di sana, lalu Della mulai menyedot perlahan sambil keluar masuk sedikit demi sedikit, sementara tanganku meremas-remas buah dada Vivi dari samping.

“Acchh.. Dell.. Enaak.. Dell..” aku mengerang.

Della mulai beraksi, hampir semua penisku masuk ke mulutnya, tinggal 3 centi lagi. Dia menarik nafas panjang, lalu kembali mendorong mulutnya sampai penisku masuk semua ke dalam mulutnya. Kulihat wajah Vivi terheran-heran melihatnya. Akhirnya Della melepaskan penisku.

“Kok jadi gua yang ngisepin kontol dia, elo dong, nih.. Isep.. Masukin kaya gua tadi” kata Della pada Vivi.
“Gua nggak janji bisa masuk semua ya, gua coba dech” kata Vivi.
“Jadi kontol gua mau dipake buat percobaan ya” protesku.
“Bukan percobaan tapi buat belajar, kontol Dino sih bisa gua telen semua, pinjem ya” kata Vivi.
“Bentar Vi, gua ganjel dulu pantat Virano pake bantal, lu isep kontolnya, gua mau ngisep anusnya” kata Della.
“Gua juga pengen tahu ya gimana tadi lu memperkosa anus gua.. He he he” kata Vivi lagi.

Della menyelipkan kepalanya di antara pantatku dan lutut Vivi, lalu mengangkat kakiku ke atas dan mulailah wajahnya mendekati selangkanganku. Dibukanya belahan pantatku memakai kedua jarinya lalu lidahnya mulai bermain di anusku. Perlahan lidahnya menari-nari di permukaannya, lalu dengan tiba-tiba lidahnya didorong masuk ke dalam anusku.

“Aduuhh Del.. Niikmaat.. Ennaak Del..” jeritku.

Jeritanku menyebabkan Vivi berhenti mengulum penisku, dia melihat bagaimana cara Della bermain dengan anusku dalam jarak yang sangat dekat. Lalu Della memutar-mutarkan lidahnya di dalam anusku, rasa nikmat dan enaknya tidak terhingga. Tiba tiba Della mencabut lidahnya dan langsung menghisap anusku kencang hingga menyebabkan perasaan seakan terbang menggapai kenikmatan.

“Vi, mau coba nggak yang kaya tadi” kata Della.
“Ntar dulu, kontol ini aja belum abis, gua mau coba dulu kaya lu tadi” jawab Vivi.

Lalu Vivi kembali mencoba untuk menelan penisku sampai sedalam-dalamnya, Della mengajari untuk melonggarkan lehernya agar penisku mencapai tenggorokannya. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Vivi berhasil sampai bibirnya menyentuh dasar penisku.

Bagai anak kecil yang mendapat mainan baru, Vivi terus bermain dengan penisku, semakin lama semakin lancar menelan penisku sampai akhirnya Vivi bisa mengocok penisku sampai ke dasar dengan mulutnya yang berarti keluar masuk tenggorokannya. Lalu Vivi mulai membuka belahan pantatku dan menempelkan lidahnya di luar anusku, mula mula hanya dicium lalu dijilatnya memutar.

“Lidah lu dikerasin, lalu dorong masuk ke dalam” kata Della. Vivi mencoba, namun belum senikmat Della, setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Vivi bisa juga.
“Sekarang saat lidah lu di dalem, puter lidah lu, lu poles sekitar dinding dalam anusnya” perintah Della dan Vivi mencobanya. Tidak ada kesulitan mengerjakannya.
“Sekarang lu cabut tapi sekaligus lu sedot yang kenceng” perintah Della lagi. Vivi mencobanya tapi berkali-kali gagal. Akhirnya Vivi menyerah.
“Lu berdua memang gila ya, gua banyak belajar hari ini, baru pernah gua orgasme seperti tadi, ntar gua praktekin ke Dino” kata Vivi.

Kulihat Vivi sambil duduk menggesek-gesek clitorisnya sendiri, tampaknya dia belum puas dan minta tambah. Kutarik dia dan kuminta dia menungging berpegangan pada sandaran ranjang. Lalu aku duduk di belakangnya. Kumasukkan dua jariku ke dalam vaginanya dan kukocok-kocok perlahan hingga Vivi mengerang.

“Oochh.. Aacchh..” rintihnya.

Perlahan kujilat anusnya lalu kukorek-korek lubangnya. Kulakukan seperti apa yang dilakukan Della padanya dan pada Vivi tadi. Pada dasarnya aku dan Della punya kesamaan yaitu sangat menyukai anus tapi bukan sodomi karena di sekitar anus itulah terletak banyak sekali ujung-ujung syaraf yang membawa kenikmatan tiada tara, jadi kami hanya menggunakan lidah dan mulut untuk menjilat dan menghisap, dimana teknik serta cara kami hampir sama.

Della menarik pantatku sehingga aku berlutut di sofa dan kembali Della bermain-main dengan anusku, sementara aku arahkan penisku ke lubang vagina Vivi dari belakang hingga Vivi mengerang keenakan.

“Aach.. Teruus viir.. Teekaan.. Lebih dalem Viirr..” Desah Vivi. Langsung aku tancap dengan kecepatan tinggi, aku tahu bahwa Vivi sebentar lagi orgasme, aku tak mau menunda lagi.
“Oocch.. Oocch.. Gua kelluuearr..” jerit Vivi, tangannya mencengkeram sandaran ranjang.
“Truuss Viir.. Jangan berhenti.. Gua juga hampir..” desahku.

Aku tekan sedalam-dalamnya dan aku kedutkan ototku sampai Vivi menjerit kecil untuk tiap kedutannya karena spermaku membentur dinding vaginanya. Lalu Vivi roboh lunglai ke ranjang sementara Vagina Vivi masih tepat menempel di wajah Della, ternyata Della sudah menyelipkan kepalanya di bawah Vivi sehingga dapat melihat dengan jelas penisku yang keluar masuk vagina Vivi.

Della menarik penisku lalu dihisap dan menjilatinya sampai bersih, karena posisi mulut vagina Vivi tepat di atas mulut Della, waktu Della menjilati penisku, terlihat spermaku meleleh keluar dari vagina Vivi dan menetes tepat di bibir Della lalu Della menjilati sekeliling vagina Vivi untuk membersihkan sisa spermaku yang meleleh keluar.

Kemudian kami bertiga lunglai dan tertidur dalam kepuasan yang luar biasa.

E N D

Pos ini dipublikasikan di Pesta Seks. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s